Rabu, 10 Oktober 2012

Model Jigsaw untuk Pembelajaran IPA


Berdasarkan pada pendekatan keterampilan proses pembelajaran IPA mencakup proses perolehan pengetahuan melalui pengamatan, penggalian, penelitian, penyampaian informasi dan produk (pengetahuan ilmiah) yang diperoleh dari berfikir dan bekerja ilmiah. Cara tersebut diharapkan dapat membantu siswa dalam mengatasi berbagai masalah yang dihadapi. Ilmu Pengetahuan Alam merupakan salah satu mata pelajaran yang penting bagi siswa karena peranannya yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari.

Srini M. Iskandar (2001: 2), kata IPA merupakan singkatan kata “Ilmu Pengetahuan Alam”. Ilmu Pengetahuan Alam merupakan terjemahan dari kata-kata Bahasa Inggris “Natural Science”. Natural artinya alamiah, berhubungan dengan alam. Science artinya ilmu pengetahuan. Jadi “Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) atau science secara harfiah adalah ilmu yang mempelajari peristiwa-peristiwa yang terjadi di alam.”

Menurut Abdullah & Eny Rahma (1998: 18), IPA merupakan “pengetahuan teoritis yang diperoleh atau disusun dengan cara yang khas atau khusus, yaitu dengan melakukan observasi, eksperimentasi, penyimpulan, penyusunan teori, eksperimentasi, observasi dan demikian seterusnya kait mengkait antara cara yang satu dengan cara yang lain”.

Leo Sutrisno, Hery Setyadi & Kartono (2007: 1-19), menyatakan ” IPA merupakan usaha manusia dalam memahami alam semesta melalui pengamatan yang tepat (correct) pada sasaran, serta menggunakan prosedur yang benar (true) dan dijelaskan dengan penalaran yang sahih (valid) sehingga dihasilkan kesimpulan yang betul (truth).

Krajcik S. Joseph, Czerniak M. Charlene and Berger Carl (1999: 12) “ Science was created by humans to predict and explain events and fenomena.”
Artinya ilmu pengetahuan merupakan hasil pengamatan yang dilakukan oleh manusia dan peristiwa alam yang terjadi.

Dalam pembelajaran IPA mencakup semua materi yang terkait dengan objek alam serta persoalannya. Ruang lingkup IPA yaitu makhluk hidup, energi dan perubahannya, bumi dan alam semesta serta proses materi dan sifatnya.
Maskoeri Jasin (2006: 36) menyebutkan “ Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) atau Ilmu Alamiah (Natural science) membahas tentang alam semesta dengan semua isinya dan terdiri dari tiga aspek yaitu Fisika, Biologi dan Kimia.” Pada apek Fisika IPA lebih memfokuskan pada benda-benda tak hidup. Pada aspek Biologi IPA mengkaji pada persoalan yang terkait dengan makhluk hidup serta lingkungannya. Sedangkan pada aspek Kimia IPA mempelajari gejala-gejala kimia baik yang ada pada makhluk hidup maupun benda tak hidup yang ada di alam.

Pendidikan IPA menjadi suatu bidang ilmu yang memiliki tujuan agar setiap siswa terutama yang ada di SD memiliki kepribadian yang baik dan dapat menerapkan sikap ilmiah serta dapat mengembangkan potensi yang ada di alam untuk dijadikan sebagai sumber ilmu dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan demikian pendidikan IPA bukan hanya sekedar teori akan tetapi dalam setiap bentuk pengajarannya lebih ditekankan pada bukti dan kegunaan ilmu tersebut. Bukan berarti teori-teori terdahulu tidak digunakan, ilmu tersebut akan terus digunakan sampai menemukan ilmu dan teori baru. Teori lama digunakan sebagai pembuktian dan penyempurnaan ilmu-ilmu alam yang baru. Hanya saja teori tersebut bukan untuk dihafal namun di terapkan sebagai tujuan proses pembelajaran. Melihat hal tersebut di atas nampaknya pendidikan IPA saat ini belum dapat menerapkannya.

Perlu adanya usaha yang dilakukan agar pendidikan IPA yang ada sekarang ini dapat dilaksanakan sesuai dengan tujuan awal yang akan dicapai, karena kita tahu bahwa pendidikan IPA tidak hanya pada teori-teori yang ada namun juga menyangkut pada kepribadian dan sikap ilmiah dari peserta didik. Untuk itu maka kepribadian dan sikap ilmiah perlu ditumbuhkan agar menjadi manusia yang sesuai dari tujuan pendidikan.

Dari pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa IPA merupakan pengetahuan dari hasil kegiatan manusia yang diperoleh dengan menggunakan langkah-langkah ilmiah yang berupa metode ilmiah dan dididapatkan dari hasil eksperimen atau observasi yang bersifat umum sehingga akan terus di sempurnakan.


Tujuan Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam

Dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional, Depdiknas (2008 : 148) menyebutkan bahwa tujuan pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam di SD atau MI adalah :
1) Memperoleh keyakinan terhadap kebesaran Tuhan Yang Maha Esa berdasarkan keberadaan, keindahan dan keteraturan alam ciptaan-Nya.
2) Mengembangkan pengetahuan dan pemahaman konsep-konsep IPA yang bermanfaat dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
3) Mengembangkan rasa ingin tau, sikap positif dan kesadaran tentang adanya hubungan yang saling mempengaruhi antara IPA, lingkungan, teknologi dan masyarakat.
4) Mengembangkan keterampilan proses untuk menyelidiki alam sekitar, memecahkan masalah, dan membuat keputusan.
5) Meningkatkan kesadaran untuk berperan serta dalam memelihara, menjaga dan melestarikan lingkungan alam.
6) Meningkatkan kesadaran untuk menghargai alam dan segala keteraturannya sebagai salah satu ciptaan Tuhan.
7) Memperoleh bekal pengetahuan, konsep dan keterampilan IPA sebagai dasar untuk melanjutkan pendidikan ke SMP/MTs.


d. Pendekatan dalam Pembelajaran IPA SD

Ilmu pengetahuan sebagai produk tidak dapat dipisahkan dari hakikatnya sebagai proses. Produk IPA adalah fakta-fakta, konsep-konsep dan prinsip-prinsip serta teori-teori. Fakta dalam IPA adalah pernyataan-pernyataan tentang benda-benda yang benar-benar ada, atau peristiwa yang betul-betul terjadi dan sudah dikonfirmasi secara objektif. Konsep IPA adalah suatu ide yang mempersatukan fakta-fakta IPA. Konsep merupakan penghubung antara fakta-fakta ada hubungannya. Kemudian prinsip IPA adalah generalisasi tentang hubungan diantara konsep-konsep IPA. Sedangkan teori ilmiah merupakan kerangka yang lebih luas dari fakta-fakta, konsep-konsep danprinsip-prinsip yang saling berhubungan. Srini M.Iskandar (2001: 49) Dalam mempelajari IPA diperlukan beberapa pendekatan atau strategi yang digunakan yaitu :


1. Pendekatan Keterampilan Proses IPA
Pendekatan keterampilan proses IPA adalah pembelajaran yang dianjurkan di dalam mengajar IPA. Keterampilan proses IPA dikembangkan bersama-sama dengan fakta-fakta, konsep-konsep dan prinsip-prinsip IPA (Srini M.Iskandar, 2001: 50).
Keterampilan proses IPA yang ada pada anak SD merupakan modifikasi dari keterampilan proses IPA yang dimiliki para ilmuan sebab disesuaikan dengan tingkat perkembangan anak dan materi yang diajarkan. Aspek-aspek keterampilan proses IPA terdiri dari delapan hal yaitu: pengamatan, pengklasifikasian, pengukuran, pengidentifikasian dan pengendalian variable, perumusan hipotesis, perancangan sksperimen, penyimpulan hasil eksperimen, dan pengkomunikasian hasil eksperimen.

2) Pendekatan Inkuiri
Pendekatan inkuiri adalah suatu strategi pembelajaran dimana guru dan murid mempelajari peristiwa-peristiwa ilmiah dengan proses penemuan atau penyelidikan masalah-masalah, menyusun hipotesis, merencanakan eksperimen , mengumpulkan data dan menarik kesimpulan tentang hasil pemecahan masalah.

3) Pendekatan STM (Sains Teknologi Masyarakat)
Sains Teknologi Masyarakat adalah suatu untuk kecenderungaan baru di dalam Pendidikan IPA yang mula-mula timbul di Inggris dan Amerika Serikat dan kini meluas ke berbagai Negara. Dalam pendekatan STM murid-murid harus di ikutsertakan dalam penentuan tujuan, prosedur perencanaan dan dalam usaha mendapatkan informasi serta dalam mengevaluasi.
Yang menjadi tujuan utama STM adalah murid-murid setelah lulus sekolah menjadi warga Negara yang mampu untuk mengambil keputusann tentang masalah-masalah di dalam masyarakat yang berkaitan dengan sains dan teknologi.

Dari tiga pendekatan di atas, dalam pembelajaran IPA metode Kooperatif jigsaw dapat dimodifikasi dengan pendekatan di atas. Selain itu masih banyak metode-metode yang dapat digunakan dalam pembelajaran IPA khususnya di Sekolah Dasar.

Lebih lengkapnya, proses jigsaw dapat dilihat dari penjelasan di bawah ini :

Metode jigsaw mendorong guru untuk memperhatikan latar belakang pengalaman siswa dan membantu siswa lebih aktif agar bahan pelajaran menjadi lebih bermakna. Siswa bekerja sama dengan sesame siswa dalam suasana gotong-royong dan mempunyai banyak kesempatan untuk mengolah informasi dan meningkatkan kemampuan berkomunikasi.

Jigsaw merupakan salah satu pembelajaran kooperatif yang pertama kali dikembangkan oleh Elliot Arronson di Universitas Texas dan merupakan salah satu metode pembelajaran yang berhasil dikembangkan oleh Robert E. Slavin.

Robert E. Slavin (2008: 14) mengemukakan bahwa “Teknik jigsaw siswa bekerja dalam anggota kelompok yang sama, yaitu 4 orang dengan latar belakang yang berbeda”.

Isjoni (2009: 77) menyatakan “Jigsaw merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang mendorong siswa aktif dan membantu dalam menguasai materi pelajaran untuk mencapai prestasi yang maksimal. Dalam model pembelajaran jigsaw terdapat tahap-tahap dalam pembelajarannya. Tahap pertama siswa dikelompokkan dalam bentuk kelompok-kelompok kecil.
The Jigsaw method is a cooperative learning technique in which students work in small groups. In this method, each group member is assigned to become an "expert" on some aspect of a unit of study. After reading about their area of expertise, the experts from different groups meet to discuss their topic, and then return to their groups and take turns teaching their topics to their groupmates (olc.spsd.sk.ca/de/PD/coop/page4.html , 23 maret 2010).
Artinya bahwa metode jigsaw adalah teknik pembelajaran kooperatif dimana siswa dalam bekerja membentuk kelompok kecil. Dalam metode ini, masing-masing anggota kelompok ditunjuk sebagai ahli/pakar untuk menjdi kelompok pakar dalam aspek yang telah dibagi. Setelah mendalami materinya dalam kelompok pakar, mereka kembali ke kelompok awaluntuk mendiskusikan materi tersebut dengan kelompoknya.

Dalam metode jigsaw, kelas dibagi menjadi beberapa kelompok kecil yang disebut kelompok semula (home teams). Materi diberikan sejumlah anggota tim dan masing-masing individu ditugaskan memilih topik mereka. Kemudian siswa dipisahkan menjadi kelompok pakar (expert groups) yang terdiri dari seluruh siswa di kelas yang mempunyai bagian informaasi yang sama. Di grup pakar, siswa saling membantu mempelajarai materi dan mempeersiapkan diri untuk tim semula. Kemudian siswa kembali ke tim semula untuk mengajarkan materi tersebut ke teman se tim dan berusaha mempelajari sisa materi. Mekanisme pembelajaran jigsaw dapat digambarkan pada gambar 1 :

Kelompok semula ( home teams)

Kelompok exspert (expert groups)

Dibawah ini adalah contoh yang dapat Admin simpulkan dari penjelasan diatas.
Siswa dibagi atas beberapa kelompok (tiap kelompok anggotanya 4–5);
Materi pelajaran dibagi kepada siswa dalam bentuk teks yang telah dibagi-bagi menjadi beberapa sub bab;
Setiap anggota kelompok membaca sub bab yang ditugaskan dan bertanggung jawab untuk mempelajarinya. Misalnya, yang dipelajari “memahami hubungan antara struktur bagian tumbuhan dengan fungsinya. Maka seorang siswa dari satu kelompok mempelajari struktur akar dan fungsinya”. Kelompok satunya mempelajari tentang struktur batang dan fungsinya, siswa yang lainnya tentang struktur daun dan fungsinya dan lainnya lagi struktur bunga dan fungsinya;
Anggota dari kelompok lain yang telah mempelajari sub bab yang sama bertemu dalam kelompok-kelompok ahli untuk mendiskusikannya;
Setelah anggota kelompok ahli setelah kembali ke kelompoknya bertugas mengajar temannya secara bergilir;
Setelah seluruh siswa selesai melaporkan guru menunjukkan satu kelompok untuk menyampaikan hasilnya, kelompok lain menanggapi dan guru mengklarifikasi;
Membuat kesimpulan
Tiap-tiap siswa dikenai tagihan secara individu.

Pembelajaran IPA yang menyenangkan


Pembelajaran IPA Yang Menyenangkan

Prinsip-prinsip pembelajaran yang menyenangkan
Saudara mahasiswa, selamat berjumpa kembali dalam kegiatan tutorial online ini dengan mata kuliah Pengembangan Pembelajaran IPA SD. Dalam kegiatan tutorial ini Anda akan dipandu oleh tutor Anda, Tahmid Sabri. Pada pertemuan kali ini kita akan mendiskusikan materi-materi yang berhubungan dengan pembelajaran, yaitu: prinsip-prinsip pembelajaran, gaya belajar, dan peta konsep yang digunakan dalam pembelajaran. Oleh karena itu kompetensi- kompetensi yang diharapkan dalam kegiatan tutorial kalini ini, Anda:
1. Mampu menjelaskan prinsip-prinsip pembelajaran yang menyenangkan
2. Mampu mendiskripsikan cara penerapan prinsip-prinsip menyenangkan dalam pembelajaran IPA
3. Mampu menggeneralisasikan konsep-konsep esensial IPA kepada siswa melalui penggunaan peta konsep (pikon) secara tepat
4. Mampu mengidentifikasi gaya belajar yang konstruktif pada siswa ke arah belajar yang menyenangkan
5. Mampu mengimplementasikan pembelajaran secara PAKEM (Pembelajaran Aktivitas I, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan)
Prinsip-prinsip pembelajaran IPA SD
Sebelum mendiskusikan apa, dan untuk apa serta bagaimana mengaplikasin prinsip-prinsip itu dalam pembelajaran, untuk menam pemahaman konse Anda, ikuti kisah atau cerita pendek (cerpen) di bawah ini:
Dalam salah satu kisah kuna India, diceritakan enam orang buta yang menggambarkan seekor gajah. Orang pertama mendekati gajah dari samping. Ia mendapati punggung gajah. Ia katakan gajah itu datar, kokoh seperti dinding. Orang kedua mendekati gajah dari depan dan terpeganglah belalai. Ia mengatakan gajah seperti pipa plastic yang lentur, bisa digulung. Orang ketiga mendekati gajah dari samping, kebetulan agak pendek, terpeganglah kakinya. Ia bilang gajah itu mirip batang pohom kelapa, bulat, tegak dan panjang. Orang keempat agak tinggi, ia bernasib baik dapat memegangi telinga. Ia menyebutkan gajah itu seperti kipas raksasa. Orang kelima, mendekati dari belakang dan yang terpegang ekor. Ia bilang gajah itu mirip sikat botol. Dan orang keenam mendekati gajah dari depan, gading yang tertegang. Ia menyatakan gajah itu mirip tombak. Mereka bertengkar dan berteriak saling mempertahankan temuannya. Anda, orang yang tidak buta hanya tersenyum karena Anda tahu bahwa masing-masing hanya ‘tahu’ sebagian dari seekor gajah yang utuh. Sesungguhnya, orang buta itu kita, Saya dan Anda. Kita meraba-raba tentang dunia di sekitar kita. Hasil ‘rabaan’ itu kita nyatakan sebagai pengetahuan yang telah lengkap, yang benar. Sesungguhnya, perbedaan pendapat itu disebabkan oleh perbedaan pengalaman. Karena itu, kita perlu melihat yang lebih luas dan lebih rinci secara sistematis dan metodis.
Dari cerpen di atas, dapat digarisbawahi, bahwa pendapat enam orang buta tentang gajah, memiliki persepsi yang berbeda, ”mengapa?”, karena adanya pengelaman yang berbeda tentang ”gajah”, makanya supaya ada keseragaman persepsi tentang gajah itu, perlu ada kriteria-kriteri tersendiri yang disebut dengan prinsip, demikian juga dalam pembelajaran, di samping bisa membuat siswa senang, aktif, dan kreatif dalam belajar, perlu prinsip-prinsip pembelajaran yang harus dikembangkan dalam pembelajaran.
Berikut disajikan lima prinsip utama pembelajaran IPA tentang kebenaran dalam pembelajaran IPA yang dijadikan anutan untuk melaksanakan pembelajaran IPA, yaitu:.
Prinsip 1: Pemahaman kita tentang dunia di sekitar kita di mulai melalui
pengalaman baik secara inderawi maupun non inderawi.
Prinsip 2: Pengetahuan yang diperoleh ini tidak pernah terlihat secara langsung, karena itu perlu diungkap selama proses pembelajaran. Pengetahuan siswa yang diperoleh dari pengalaman itu perlu diungkap di setiap awal pembelajaran.
Prinsip 3: Pengetahuan pengalaman mereka ini pada umumnya kurang konsisten dengan pengetahuan para ilmuwan, pengetahuan yang Anda miliki. Pengetahuan yang demikian Anda sebut miskonsepsi. Anda perlu merancang kegiatan yang dapat membetulkan miskonsepsi ini selama pembelajaran.
Prinsip 4: Dalam setiap pengetahuan mengandung fakta, data, konsep, lambang, dan relasi dengan konsep yang lain. Tugas Anda sebagai guru IPA adalah mengajak siswa untuk mengelompokkan pengetahuan yang sedang dipelajari itu ke dalam fakta, data, konsep, symbol, dan hubungan dengan konsep yang lain.
Prinsip 5: IPA terdiri atas produk, proses, dan prosedur. Karena itu, Anda perlu mengenalkan ketiga aspek ini walaupun hingga kini masih banyak guru yang lebih senang menekankan pada produk IPA saja. Namun, perlu diingat bahwa perkembangan IPA sangat pesat. Kita tidak mampu mengikuti secara terus-
Selanjutnya, jika Anda akan mengembangkan IPA sebagai prosedur, Anda memasuki bidang yang disebut prosedur ilmiah. Anda masuk pada sebagai ruang dari metode penelitian. Anda perlu mengenalkan cara-cara mengumpulkan data, cara menyajikan data, cara mengolah data, serta cara-cara menarik kesimpulan. Anda dapat mempelajari topik ini pada mata kuliah penelitian.
Lingkungan belajar non fisik
Setelah Anda mengenal lima prinsip pembelajaran IPA dan siap mengimplementasikannya, ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan untuk membuat siswa belajar dengan baik, yaitu lingkungan belajar non fisik. Lingkungan belajar non fisik adalah keadaan psikologis di sekitar siswa yang diciptakan oleh guru secara sengaja untuk mendorong siswa belajar.
Faktor-faktor lain yang perlu mendapat pertimbangan guru dalam melaksanakan pembelajaran IPA di sekolah, adalah sebagai berikut:
1. Lingkungan belajar mendukung dan produktif.
Lingkungan belajar yang mencerminkan prinsip ini adalah jika Anda sebagai guru membangun hubungan yang positif dengan setiap siswa, Anda mengenal dan menghargai mereka satu per satu. Anda juga membangun budaya saling menghargai dan saling menghormati antar siswa baik secara individual maupun kelompok. Anda menggunakan berbagai strategi untuk meningkatkan keyakinan kepada diri sendiri dan kesediaan mengambil resiko dalam belajar. Dan, terakhir, Anda perlu menunjukkan rasa aman pada setiap siswa secara individual melalui dukungan yang terstruktur, penghargaan pada usaha siswa serta yang dikerjakannya.
Salah satu yang paling mungkin Anda laksanakan adalah pada setiap proses pembelajaran Anda mulai dengan mengapresiasi konsepsi siswa tentang konsep-konsep IPA yang akan dipelajari pada pertemuan itu.
2. Lingkungan belajar menumbuhkan peningkatan kemandirian, kolaboratif, dan motivasi diri.
Dalam lingkungan semacam ini Anda, sebagai guru, mendorong dan mendukung agar setiap siswa bertanggung jawab atas belajar mereka masing-masing. Keberhasilan belajar di tangan para siswa sendiri, sebaiknya ditanamkan. Anda juga membangun berbagai strategi yang dapat menumuhkan keterampilan kolaborasi yang produktif.
3. Kebutuhan siswa, perspektif siswa, minat siswa tercermin dalam program belajar.
Lingkungan belajar yang seperti ini tercermin pada diri Anda, sebagai guru yangmenggunakan berbagai strategi yang fleksibel dan responsive terhadap tata nilai, kebutuhan dan minat siswa secara individual. Anda juga mempergunakan berbagai strategi yang mendukung berbagai cara berpikir dan cara belajar siswa. Dan, pengajaran Anda didasarkan pada pengalaman serta pengetahuan awal siswa.
4. Siswa ditantang dan didukung agar mengembangkan kemampuan berpikir kritis.
Lingkungan belajar seperti ini dapat terjadi jika Anda sebagai guru merancang dan mengimplementsikan suatu kegiatan yang menumbuhkan belajar yang berkelanjutan, melalui penekanan hubungan antar gagasan dan konsep, serta menumbuhkan ketrampilan investigasi dan penyelesaian masalah.
5. Asesmen merupakan bagian integral dari pembelajaran
Lingkungan belajar seperti ini tercermin pada asesmen yang Anda buat yang dapat mencakup berbagai macam aspek dari belajar. Misalnya, dalam bentuk porto folio. Anda juga mengembangkan asesmen dengan kriteria yang jelas serta terbuka/transparan. Jangan lupa asesmen seperti ini mesti mendorong siswa untuk melakukan refleksi dan evaluasi diri. Sebaiknya, soal-soal tes baik formatif maupun sumatif bukan menggunakan bahasa teks dari buku ajar.
6. Dan, yang terakhir, belajar menghubungkan siswa dengan masyarakat dan prakttik yang berada jauh di luar kelas.
Lingkungan seperti ini dapat terwujud jika Anda sebagai guru mendukung siswa terlibat dengan pengetahuan konteporer dan pengetahuan praktis di lapangan. Anda juga membuat rencana yang dapat menciptakan hubungan antara siswa dengan komunitas sekitarnya. Dalam konteks aliran panas dalam air Anda dapat mengajak siswa mempelajari cara kerja pemanas air bertenaga matahari, yang saat ini banyak dipasang di rumah-rumah orang kaya.
Latihan 2 Unit 5 subunit 1: apakah pengembangan pembelajaran IPA SD yang Anda ikuti ini mengakomodasi lingkungan belajar no 3?
Rambu-rambu: lingkungan belajar yang mengapresiasi kebutuhan dan minat siswa merupakan salah satu cirri dari pembelajran IPA dalam tradisi konstruktivisme. Jika pembelajaran yang Anda lakukan telah bernuansa konstruktivisme maka tentu lingkungan belajar no 3 terlah dikembangkan.
Pendekatan pembelajaran
Pendekatan pembelajaran adalah cara untuk melaksanakan pembelajaran dengan metode dan teknik yang tepat sehingga diperoleh hasil belajar yang akurat dan dipercaya.
Dalam Quantum Teaching dikenal pendekatan TANDUR
- Tumbuhkan minat dengan mengajukan ‘apa manfaatnya bagiku?’
- Alami/ciptakan pengalaman umum yang dimengerti semua siswa
- Namai dengan istilah, konsep, kata kunci, rumus
- Beri kesempatan mereka mendmonstrasikan/menunjukkan pengetahuan yang telah dikonstruksi
- Rayakan atas pencapaian mereka dengan cara mengakui/menghargainya
Jika strategi TANDUR ini digunakan dengan baik maka akan diperoleh Pembelajaran yang membuat siswa (dan guru) aktif, dengan begitu berkembanglah, inovatif, dengan inovatif, siswa terdorong termotivasi berbuat, dan bertindak ke hal-hal yang belum dilakukkan oleh temannya, kreativitas baik siswa maupun guru, sehingga proses situ berjalan dengan Efektif, dan akhirnya menyenangkan bagi semua (Pakem). Saat ini, PAKEM dikenal sebagai pendekatan pembelajaran yang paling dianjurkan. PAKEM ini mempunyai padanan dalam bahasa Inggris active joyful effective learning (AJEL)
Dalam Quantum Teaching disebutkan bahwa pembelajaran itu yang dapat mendorong siswa belajar dengan baik itu menggunakan asas seperti yang disajian pada Gambar 5.1.3.
Anda, pertama-tama menyelami dunia para siswa, dengan menggunakan bahasa mereka, cara berpikir mereka, pengalaman mereka serta pengetahuan mereka. Dengan cara yang bagaimana? Anda dapat mengkaitkan bahan yang akan diajarkan dengan sebuah peristiwa, pikiran, atau perasaan yang mereka peroleh di rumuah, di perjalanan, dalam kesenian, saat rekreasi, saat nonton tv, saat mendengarkan musik, atau saat-saat santai besama kawan-kawannya. Setelah kaitan itu terbentuk, Anda dapat membawa mereka ke dunia Anda.
Sungguh menyenangkan pembelajaran IPA yang baru saja diikuti para siswa Anda.
Selanjutnya jawablah pertanyaan di bawah ini dengan memberi tanda silang (X) pada pernyataan a, b, atau c yang dinggap benar !
1. Jika Anda menerima prinsip “ pemahaman kita tentang dunia di sekitar kita di mulai melalui pengalaman baik secara inderawi maupun noninderawi”.
a. Anda perlu merancang pembelajaran yang memberi kesempatan siswa melakukan sendiri aktivitas penemuan IPA
b. Anda cukup mengandalkan ilustrasi yang disajikan dalam buku ajar IPA
c. Aktivitas tidak diperlukan karena Ujian nasional tidak pernah mengungkap pengalaman IPA siswa 1c
2. Jika Anda menerima prinsisp bahwa pengetahuan yang diperoleh ini tidak pernah terlihat secara langsung, karena itu perlu diungkap selama proses pembelajaran
a. Anda perlu mengungkapnya di awal pembelajran
b. Anda perlu mengungkapnya di tengah pembelajaran
c. Anda perlu mengungkapnya sekali-kali saja 2c
3. Jika Anda menerima prinsip yang menyatakan bahwa pengetahuan pengalaman mereka ini pada umumnya kurang konsisten dengan pengetahuan para ilmuwan.
a. Anda menjelaskan semua konsep tanpa mempedulikannya
b. Anda merasa tidak perlu memperbaikinya
c. Anda perlu melakukan usaha untuk memberbaikinya 3c
4. Jika Anda meerima prinsip yang menyatakan bahwa dalam setiap pengetahuan mengandung fakta, data, konsep, lambang, dan relasi dengan konsep yang lain.
a. Setiap kali membicarakan suatu topik, Anda mengajak siswa untuk mengenali mana yang konsep, mana yang fakta, dan apa lambangnya
b. Anda hanya menekankan kosepnya saja
c. Anda menekankan penerapannya saja 4a
5. Jika Anda menerima prinsip yang mengakui bahwa IPA terdiri atas produk, proses, dan prosedur.
a. dalam pembelajaran Anda menjelaskan konsep-konsep IPA saja
b. dalam pembelajaran IPA Anda mengadakan praktikum IPA
c. dalam pembelajaran IPA , Anda melatih siswa mengikuti apa yang dilakukan para ilmuwan 5a
6. Jika Anda akan menciptakan lingkungan belajar yang mendukung dan produktif. Berarti:
a. Anda sebagai guru IPA menghargai pekerjaan siswa walaupun banyak yang keliru
b. Mengapresiasi konsepsi siswa tentang konsep-konsep IPA yang akan dipelajari
c. Anda melaksanakan sesuai dengan yang telah dirancang sebelumnya 6c
7. Jika Anda akan menciptakan lingkungan belajar yang menumbuhkan peningkatan kemandirian, kolaboratif, dan motivasi diri. Maka:
a. Anda menyuruh siswa secara terus-menerus agar rajin belajar
b. Menjelaskan bahwa siswa mempunyai tanggung jawab untuk belajar
c. Melatih siswa berkolaboratif 7a
8. Jika Anda menerima pendapat bahwa kebutuhan siswa, perspektif siswa, minat siswa tercermin dalam program belajar.
a. Anda, sebagai guru yang menggunakan satu strategi yang jitu
b.. Pengajaran Anda didasarkan pada pengalaman serta pengetahuan awal siswa.
c. Anda merasa ida berwenang merancang pembelajran IPA yang didasarkan atas keinginnan sisw 8b
9. Jika Anda menyetujui bahwa siswa hendaknya ditantang dan didukung agar mengembangkan kemampuan berpikir kritis.
a. Anda akan mengajar dalam tradisi behavioris
b. Anda akan mengajar dalam tradisi konstruktivis
c. Ada akan mengajar dalam tradisi informastion proccessing 9a
10. Jika Anda menerapkan strategi PAKEM maka secara implisit Anda menerapkan
a. Tradisi konstruktivis
b. Tradisi behavioris
c. Tradisi developmental
Gaya belajar
Tabel .1 Gaya belajar Visual
Visual
Sering Kadang-kadang Jarang
1 Rapi dan teratur
2 Berbicara dengan cepat
3 Pengatur dan peencana jangkan panjang yang baik
4 Pengeja kata yang baik
5 Lebih mudah mengingat yang didengar daripada yang dilihat
6 Menghapal dengan asosiasi visual (misal: gunung dengn segitiga)
7 Sulit menerima penjelasan yang disampaikan secara lisan
8 Lebih suka membaca sendiri daripada dibacakan
9 Sring membuat corat-coret selama menelpon
10 Lebih suka melakukan daripada “berpidato”
11 Lebih menyenangi lukisan dari pada musik
12 Anda tahu apa yang harus dikatakan tetapi sukat menemukan kata yang tepat
Sub total
X 2 X 1 X 0
Total= ………. ………. + …………… + …………
Tabel.2 Gaya belajar Auditorial
Auditorial Sering Kadang-kadang Jarang
1 Sering berbicara dengan diri sendiri sembari bekerja
2 Mudah terganggu oleh keributan kecil
3 Jika membaca sambil menggerakkan bibir
4 Lebih suka membaca keras-keras dan mendengarkan
5 Pandai bercerita secara lisan tetapi sulit jika mau menuliskannya
6 Berbicara dengan berirama
7 Seorang pembicara yang fasih
8 Lebih menyuki seni daripada musik
9 Mudah ingat ang didengar dari pada yangdilihat
10 Senang berbicara panjang-lebar daripada melakukan sesuatu
11 Lebih baik mengeja daripada menuliskan
12 Senang mengulang dan menirukan yang diucapkan orang
Sub total
X 2 X 1 X 0
Total=…….. ………. + …………. + ………….
Tabel .3 Gaya belajar Kinestetis
Kinestetis Sering Kadang-kadang Jarang
1 Sering berbicara dengan lambat
2 Sering menyentuh orang lain untuk mendapatkan perhatian
3 Berdiri sedekat mungkin pada saat berbicara dengan orang lain
4 Beroinetasi pada fisik dan gerak
5 Lebih suka belajar melalui aktivitas fisik daripada membaca atau mendengarkan
6 Lebih sering menghapalkan sesuatu sambil berjalan-jalan
7 Pada saat membaca sering menggunakan jari sebagai penunjuk
8 Bnyak menggunakan isyarat-isyarat tubuh
9 Tidak dapat duduk tenang dalam waktu yang lama
10 Lebih sering membuat keputusan berdasarkan perasaan
11 Ketika mendengarkan sesuatu sambile mengetuk-ngetuk jari, pena dsb
12 Menyediakan waktu untuk berolahraga atau aktivitas fisik yang lain
Sub total
X 2 X 1 X 0
Total= ……… ……….. + …………… + …………
Sajian dengan memperhatikan gaya belajar
Apa yang dapat Anda lakukan di kelas. Untuk memenuhi ketiga gaya belajar para siswa Anda, sebaiknya dalam setiap pertemuan diusahan menggunakan tiga jenis sajian sekaligus. Anda sediakan peta konsep, diagram, grafik yang jelas (bagi siswa visual). Anda sajikan secara verbal dengan ucapan-ucapan yang berirama (bagi siswa auditorial). Dan, Anda mendemonstarsikan atau mengajar siswa meleakukan sesuatu (bagi siswa kinestetis).
Mari kita simak contoh berikut ini.
Topik: magnet tetap
Alat/perlengkapan: Magnet batang (2 bt),dan benang.
Konsep: Kutub magnet
Sajian:
1. Bagi siswa visual
Gambar ini dapat Anda tempelkan di papan tulis, atau dipoto kopi dan dibagikan kepada setiap siswa. Tentu, agar hemat, sebelum difotocopy diperkecil dahulu sehingga dalam satu halaman dapat beberapa gambar.
Pendek kata, setiap kali menyampaiakan penjelasan kepada siswa, sebaknya tiga moda itu sekaligus digunakan, agar setiap siswa dapat menyerap informasi/penjelasan yang Anda berikan lewat gaya belajar masing-masing.
Latihan Unit 5 Subunit 2
Buatlah sajian yang mengakomodasi tiga gaya belajar siswa
1. Topik air
2. Topik polusi
3. Topik tanah
4. Jarring-jaring kehidupan
5. Topik hewan peliharaan
Peta konsep
Pengertian
Menurut Novak, konsep yang baru diperoleh dengan cara menemukan (discovery) seperti yang dilakukan balita, atau dari belajar seperti yang dilakukan para siswa di sekolah. Namun, sebagaian siswa belajar konsep di sekolah itu ‘hanya’ menghapalkan definisinya dan atau mengingat penggunaannya untuk menyelesaikan soal. Mereka tidak menangkap makna pengertian yang terkandung dalam definisi tersebut.
Suatu peta konsep tediri atas beberapa konsep dan garis-garis yang menunjukkan sifat hubungan antar konsep itu. Berikut disajikan peta konsep tetang bunyi.
Penggunaan
Sejak dicetuskan, 1983, hingga kini peta konsep telah diterapkan diberbagai hal.
Peta konsep dapat dipakai untuk mengumpulkan gagasan baru melalui curah pendapat dalam diskusi kelompok terarah (Focus group discussion). Fasilitator membantu menggali gagasan peserta dan sekaligus menuangkannya ke dalam peta konsep yang dibentangkan di layer depan. Setiap kali muncul usulan dari peserta, usulan tersebut langsung diintegrasikan pada peta konsep yang telah terbentuk. Akhir dari gugah pendapat diperoleh gaggasan yang lebih padu dan menyeluruh karena tergambar hubungan antara gagasan yang satu dengan gagasan yang lain.
Peta konsep juga telah digunakan untuk menggali miskonsepsi siswa. Leo Sutrisno (1990) menggunakan peta konsep untuk mengungkap konsepsi alternative siswa tentang topic bunyi. Lihat Unit 3.
Peta konsep juga digunakan untuk membantu meningkatkan pemahaman seseorang tentang sesuatu yang disajikan lewat tulisan. Bobby dePorter dalam Quantum Learningnya membuat tutuntan menggunakan peta konsep untuk membuat catatan dan untuk membuat tulisan.
Sejak diusulkan, sudah sekitar 150 penelitian tentang pengaruh peta konsep pada hasil belajar. Hasil meta analysis Horton (1993) menunjukkan bahwa effect Size penggunaan peta konsep ini pada hasil belajar adalah 0.46.
Peta konsep untuk asesmen
Kini muncul pemikiran penggunaan peta konsep sebagai salah satu alat asesmen. Istilah asesmen digunakan sebagai pengganti ulangan atau ujian karena ada anggapan untuk menilai pengetahuan dan ketrampilan siswa secara individual memerlukan intergrasi dari banyak informasi. Konsep map dapat digunakan sebagai salah satu informasi untuk asesmen itu.
Ada tiga hal yang dimiliki peta konsep dapat digunakan sebagai salah satu bagian dari asesmen. Pertama, peta konsep dapat menampilkan tugas yang khas yang tidak dimiliki oleh alat-alat lain, yaitu membangun suatu hubungan antar konsep yang ada di dalam materi tertentu secara konprehensip.. Kedua Ketiga, peta konsep juga memiliki sisten scoring. Sistem scoring dapat didasarkan daftar konsep yang sebaiknya harus ada, dan daftar label hubungan antar konsep yang harus dibuat. Karena itu, memang benar peta konsep dapat digunakan sebagai bagian dari kegiatan asesmen.
Latihan Unit 5 Subunit 3
1. Buatlah peta konsep tentang cahaya
Rambu-rambu: Sumber cahaya, perambatan cahaya, alat-alat yang munggunakan cahaya
2. Buatlah peta konsep tentang panas
Rambu-rambu: pengertian panas, suhu, aliran panas, alat-alat yang bekerja dengan panas
3. Buatlah peta konsep tentang air
Rambu-rambu: sumber air, aliran air, unsure-unsur air, hujan, banjir,
Latihan: Perhatikan peta konsep di bawah ini, kemudian sesui petunjuk yang tersedia!
1. Suatu peta konsep tediri atas beberapa konsep dan garis-garis yang menunjukkan sifat hubungan antar konsep itu.
A. Tunjukkan paling sedikit 10 konsep yang tercakup pada bahan ajar bunyi!
B. Berilah label-label yang pada garis-garis yang belum berlabel pada peta konsep
ini.